Meski Persentasenya Rendah, Balita Rentan Terserang Covid-19

Home / Berita / Meski Persentasenya Rendah, Balita Rentan Terserang Covid-19
Meski Persentasenya Rendah, Balita Rentan Terserang Covid-19 Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi, Senin (1/6/2020) malam.(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESPAPUA, SURABAYA – Waspadalah karena anak-anak di bawah lima tahun (balita) rentan terserang Covid-19. Kendati menurut hasil penelitian, persentasenya memang lebih kecil dibandingkan orang dewasa. 

"Ini kan dulu ada aksioma jika Covid-19 tidak akan menyerang anak-anak. Ternyata tidak," terang Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi, Senin (1/6/2020) malam.

"Yang kita lihat di sini anak-anak yang kurang dari 5 tahun jadi kalau kita lihat persentasenya memang kecil. Jadi kira-kira 1,75 persen," tandasnya. 

Direktur Utama RSUD dr Soetomo ini menyebut jika hal ini kemungkinan karena anak-anak memang lebih banyak beraktivitas di rumah.

Sementara, data tabulasi demografi pasien Covid-19 menunjukkan jika pasien positif didominasi oleh laki-laki mencapai 54 persen dan perempuan 46 persen. 

"Mungkin karena laki-laki banyak yang nggak social distancing. Memang belum ada penelitian pengaruh hormon terhadap penyakit Covid-19 ini," ujar Joni. 

Dari penelitian di luar negeri, virus Corona paling banyak menyerang usia di atas 60 tahun. Namun tidak demikian di Indonesia.  "Kelihatannya umur 40-49 tahun itu yang paling tinggi. 50-59 itu kedua, baru umur tua," imbuhnya. 

Sedangkan usia muda atau 40 tahun ke bawah memang memiliki potensi lebih kecil. Walaupun mereka di rentang usia tersebut lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah.  "Mungkin karena imunologinya lebih bagus," ungkapnya. 

Ia menjelaskan, jika ilmu seseorang menderita penyakit itu ada tiga. Host (manusia), agent (kuman) dan environment (lingkungan). Tiga hal ini saling berinteraksi. 

Pada Covid-19 host atau manusianya juga bisa bertindak sebagai pembawa atau carrier juga bisa menjadi pihak yang sakit. Dan inilah yang membuatnya sulit dikendalikan.

"Makanya penularannya lewat  manusia ke manusia pembawanya manusia. Kalau pembawanya nyamuk kayak Dengue Hemoragi Fever (DHF) disemprot hilang. Tapi kalau pembawanya manusia ya manusianya disemprot pergi tidak hilang makanya harus isolasi juga," tuntas Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim ini. (*) 

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com