Ciptakan Generasi Ilmuwan Beradab dalam Kampus Merdeka

Home / Kopi TIMES / Ciptakan Generasi Ilmuwan Beradab dalam Kampus Merdeka
Ciptakan Generasi Ilmuwan Beradab dalam Kampus Merdeka Ilustrasi - Kampus Merdeka

TIMESPAPUA, MALANGSAAT ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang gencar menyosialisasikan Program Kampus Merdeka. Dalam berbagai kesempatan sosialisasi, Program Kampus Merdeka disebut upaya Mendikbud Nadiem Makarim mengimplementasikan visi Presiden Jokowi terkait penciptaan sumber daya unggul (SDM), yakni pendidikan karakter dan pengamalan Pancasila; deregulasi dan debirokratisasi meningkatkan investasi dan inovasi; penciptaan lapangan kerja; dan pemberdayaan teknologi.

Visi yang fokus penciptaan SDM unggul memang merupakan keniscayaan dalam menghadapi persaingan global. Di era disrupsi teknologi ini, pekerjaan manusia banyak digantikan teknologi, terutama artificial intelligence. Diperkirakan, 75-375 tenaga kerja global beralih profesi karena teknologi akan melahirkan berbagai profesi yang sebelumnya belum dikenal. Karena itulah, tenaga kerja Indonesia perlu peningkatan kualitas ilmu dan keterampilan teknologi digital.

Pendidikan merupakan pintu utama menjawab tantangan disrupsi teknologi ini dengan menyiapkan ilmu dan keterampilan yang bisa bersaing di era global. Kemampuan bersaing ini merupakan esensi ilmu yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Agama telah mengajarkan bahwa dengan ilmu, individu dapat meraih keutamaan hidup.

Tantangan disrupsi teknologi ini tampak dijawab Kemendikbud dengan me-launching Program Kampus Merdeka. Mahasiswa “merdeka” karena dapat mengambil mata kuliah program studi lain di luar fakultas dan kampus lain. Program studi yang dipelajarinya hanya berfungsi sebagai starting point. Permendikbud no 3/2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi telah mengatur hak mahasiswa untuk kuliah tiga semester (setara 60 sks) di program studi yang lain. Pembelajaran di kelas bersifat “Belajar Merdeka”, yakni diskusi, problem solving, higher order thinking, magang/praktik kerja, wirausaha, proyek di desa, dengan menghadirkan dosen praktisi dari industri, proyek kemanusiaan, riset, dan berbagai proyek melibatkan mahasiswa.

Patut diapresiasi kebijakan Kemendikbud tentang Kampus Merdeka ini. Mahasiswa dapat terstimuli untuk memiliki kemampuan dasar siap bersaing, yakni kemampuan mencari informasi, mengolah informasi, menggunakan informasi untuk pengambilan keputusan, bekerja sama dan networking. Mahasiswa dapat lebih mandiri, memiliki semangat entrepreneur (semangat berjuang, pantang menyerah, tidak takut menanggung risiko), dan bersifat pembelajar sepanjang hayat untuk survive di tengah perkembangan zaman.

Selain memberikan apresiasi, penulis mendorong Program Kampus Merdeka ini untuk juga fokus mengkonkretkan aspek pertama dari visi SDM unggul, yakni pembangunan kharakter dan pengamalan Pancasila. Lebih konkret lagi, aspek adab/akhlak harus menjadi fondasi pembangunan SDM unggul. Memang Kemendikbud telah mempunyai program general education, yakni pemahaman wawasan kebangsaan dan bela negara (berisi empat pilar: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI), tetapi, seringkali implementasi dalam pengajaran perlu dikonkretkan lagi. Aspek adab ini harus selalu mewarnai dalam setiap interaksi dalam proses pembelajaran. Teknologi memang membuat kemajuan kehidupan, tetapi, di sisi lain, juga berpotensi mereduksi kharakter/adab bangsa pada generasi muda. Hal ini disebabkan persinggungan dan dialog nilai-nilai budaya terjadi makin intensif dan melewati batas geografis. Deteritorialisasi budaya pun terjadi pada semua aspek perilaku sehingga sudah makin sulit mengidentifikasi yang mana budaya lokal dan yang bukan.

Permasalahan terbesar Bangsa Indonesia saat ini adalah kurangnya orang yang mampu olah rasa (empati/sambung roso) dan olah hati (keimanan), bukan kurang olah pikir (pintar). Sudah banyak orang Indonesia pintar-pintar (olah pikir), jumlah yang buta huruf makin menurun, jumlah Doktor (S3) makin banyak, dan jumlah penerima beasiswa S2-S3 ke luar negeri semakin bertambah. Tetapi, karena tidak disertai pembangunan olah hati dan olah rasa yang baik maka orang-orang pintar itu hanya mengandalkan kepintarannya, tidak mengandalkan hati nuraninya, dan sifat empati sosialnya kurang. Kepintarannya pun bersifat individual untuk meraih kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan kepentingan sosial. Bukti nyata yakni data KPK mengungkap bahwa 86% pelaku korupsi antara 2004-2015 adalah lulusan perguruan tinggi, yakni strata S2, diikuti S1 dan S3. Inilah yang disebut wong pinter keblinger.

Program Kampus Merdeka harus mampu mendorong para dosen untuk mengimplementasikan ketentuan UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 4 yang menempatkan “pengembangan dan pembentukan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat” sebagai fungsi pertama pendidikan (ayat 1). Pasal 5 menempatkan “menjadikan mahasiswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME” sebagai tujuan pendidikan tinggi yang pertama (ayat 1). Jadi, bukan ilmu dan teknologi yang menjadi tujuan utama pendidikan kita. Lembaga pendidikan bukan hanya mengajar ilmu (ta’lim), tapi, lebih menekankan mendidik adab (tarbiyah). Presiden Jokowi pun dalam pidato peringatan Hari Guru 2016 meminta para guru untuk lebih mengajarkan etika kepada murid-muridnya. Intinya, keimanan/adab dibentuk dulu sebelum mengajarkan ilmu, dan pada akhirnya ilmu yang mengandung keimanan/adab akan membuat seseorang menggunakan ilmunya untuk kebaikan dan beramal baik untuk sesamanya.

Banyaknya orang korupsi dan meneror karena radikalisme menunjukkan keimanan (olah hati) belum terintegrasikan dalam kepandaian (olah pikir). Keimanan belum menjadi dasar kepinteran. Ilmu dan adab merupakan dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Seseorang itu tidak akan mencapai kemuliaan dengan salah satu macam ilmu, selama dia tidak menghiasi amalnya dengan Adab. “Ilmu bersumber dari keimanan, yang akan menuntun kepada amal baik” (Kamaluddin, 2015, h.5). Keimanan ini yang membentuk adab. Karenanya, Burhanuddin Al-Zarnuji dalam buku Ta’lim Muta’alim menekankan bahwa ilmu yang harus dipelajari terlebih dulu adalah ilmu tauhid dan hukum agama. “Berilmu tanpa adab adalah dimurkai (al-maghdhubi alaihim), sementara beradab tanpa ilmu adalah kesesatan (al-dhallin)”. Adablah yang membuat ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’), ilmu yang manfaat akan membawa ke jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai (karena ilmu tanpa adab) dan bukan jalan yang sesat (karena amal tanpa disertai ilmu). (Husaini, 2003, h. 188).

Program Kampus Merdeka jangan terlalu memprioritaskan pendidikan yang bersifat pengembangan Iptek, tetapi, juga pembentukan aspek-aspek spiritual, prinsip dasar kemanusiaan, dan prinsip adab, seperti semangat cinta kasih dalam kebenaran, kemanusiaan yang utuh, semangat solidaritas, persaudaraan, dan kesejahteraan bersama, hidup dalam keragaman, keterbukaan, sikap transformatif, kejujuran, dan keberpihakan terhadap yang lemah.

Pendekatan agama mesti dijadikan fondasi membangun kharakter. Nilai-nilai agama mesti dianut mahasiswa sebagai individu dalam keluarga, bertetangga, dalam kehidupan bernegara, termasuk di dalamnya terkait dengan hubungan antarmanusia, dengan lingkungan hidup, dan dengan hewan. Hal ini wajar karena agama adalah sumber dari segala tuntunan kehidupan, termasuk tuntunan berperilaku. Agama seringkali menjadi “alat mujarab” menggerakkan perilaku orang karena manusia adalah human religious sehingga agama adalah kebutuhan jiwa dalam bentuk kepercayaan terkait hubungan diri dengan sang pencipta. Agama dapat menjadi penggerak ribuan orang untuk berperilaku tertentu, seperti tolong-menolong, menghormati sesama, bahkan agama sering digunakan alat mengajak berdemonstrasi atau mengajak dan melarang publik memilih figur tertentu dalam pemilihan umum. Manusia, menurut Amstrong (2003) adalah “spiritual animals…homo sapiens is also homo religious.”

***

* Penulis: Rachmat Kriyantono, (Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya) dan Lukman Istoni, (Pengamat Pendidikan & Pengurus Anak Ranting NU Perum IKIP Tegalgondo Kab. Malang)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com