“Pendidikan dalam Keretakkan Moral”

Home / Kopi TIMES / “Pendidikan dalam Keretakkan Moral”
“Pendidikan dalam Keretakkan Moral” Alsaba S. Igobula, Mahasiswa pascasarjana Unisma.

TIMESPAPUA, MALANG – Melacak cikal bakal munculnya manusia-manusia masa lampau yang berbudi luhur dan berpikir jernih serta bijaksana tanpa ada pembatas, nampaknya zaman renaissancelah sebagai kunci utama yang membuka tabir kebebasan berpikir manusia kala itu. Pada hakikatnya, zaman renaissance merupakan suatu periode kelahiran kembali budaya klasik, terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno yang dapat melaksanakan suatu aktivitas pemikiran secara bebas dan liar tentang segala dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk perihal kertuhanan. Bermula dari formulasi renaissance itulah sehingga mencuatnya lembaga-lembaga pendidikan sebagai wahana baru dalam memupuk dan merawat alam intelektualitas sembari menumbuhkan moralitas manusia. 

Seiring perkembangan zaman, tampaknya pendidikan manjadi medium utama dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan seperti himpitan kemiskinan, belenggu kebodohan dan kebobrokan moralitas masyarakat. Tak hanya itu, pendidikan juga menjadi tiang penyangga kemajuan pembangunan nasional suatu negara. 

Sedikit mengorek kemajuan negara Jepang yang saat ini dijuluki sebagai macan Asia bahkan dunia dalam bidang ekonomi, militer maupun bidang lainnya, tentu tidak lepas dari sejarah kelam yang pernah dialaminya. Hal itu di tandai dengan berlangsungnya perang dunia kedua antara Jepang versus Amerika Serikat. Kota Hiroshima dan Nagasaki sebagai  pusat pemerintahan dan industri Jepang kala itu diluluh lantahkan oleh bom Atom yang dijatuhkan Amerika Serikat. Akibat jatuhnya bom atom tersebut, membuat aktivitas ekonomi, sosial, militer Jepang mengalami kelumpuhan total. Akan tetapi, hebatnya Kaisar Hirohito pada saat peristiwa itu terjadi, ia menginisiasikan untuk menyelamatkan semua guru, bukan tentara yang tersisa. Jepang menyadari tidak mungkin bersaing lagi dari segi militer, namun jepang mengutamakan pendidikan untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM). Seiring perkembangannya, dampak program besar-besaran pendidikan ini, mampu menciptakan kualitas SDM yang mumpuni untuk mengelolaan ekonomi dan pertumbuhan industri secara menyeluruh. Alhasil, saat ini Jepang menjadi negara yang sangat kuat ekonominya dan makmur masyarakatnya. Hal tersebut menandakan bahwa, pendidikan merupakan induk dari kemajuan bangsa Jepang. Lalu, bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia saat ini ?

Potret pendidikan di Indonesia

Mutu pendidikan di Indonesia saat ini terbilang masih jauh dari kata harapan. Berbagai formulasi  pendidikan telah dicanangkan mulai dari diutak-atiknya kurikulum, penerapan sisitim zonasi bahkan yang terbaru adalah ujian nasional yang tidak diwajibkan dilaksanakan secara nasional melainkan diberikan kebebasan secara otonom kepada sekolah untuk merumuskan sendiri. Pembenahan pola pendidikan seperti itu, hanya menjadi isapan jempol belaka. Sebab, meskipun upaya pembaharun dan penguatan regulasi pendidikan telah ditancapkan, tetapi faktanya esensi pendidikan yang mendambakan peningkatan kecerdasan dan moralitas peserta didik belum menyentuh sepenuhnya. 

Terbukti, dengan mencuatnya beberapa kasus yang terjadi di dunia pendidikan belakangan ini, sampai-sampai menggemparkan jagat publik. Sebagai misal Kasus bullying yang terjadi di SMPN 16 Kota Malang, yang diduga dilakukan oleh tujuh siswa terhadap salah seorang siswa yang berinisial MS. Pada praktiknya, korban dianiaya dengan cara dibanting ke paving dan dilempar ke pohon. Akhirnya, korban dilarikan ke RSU Lavalette Kota Malang guna dirawat, mengingat jari tengah korban mengalami luka lebam yang cukup parah, sehingga mengharuskan diamputasi. Walaupun pernyataan pelaku bahwa tindakan tersebut hanya sekedar iseng atau becanda, tetapi secara moral tindakan tersebut sangatlah tidak manusiawi. 

Dalam kasus yang sama, terjadi juga di tempat yang berbeda yakni tiga siswa SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo Jawa Tengah, melakukan pembullying terhadap salah satu siswi. Dalam aksinya yang sontak terekam dalam bentuk vidio berdurasi kurang lebih 30 detik itu, terlihat pelaku melakukan pemukulan secara fisik terhadap si korban. Tiga siswa yang diduga sebagai pelaku tersebut saat ini diproses melalui jalur hukum. Apapun motifnya, tindakan yang demikian jelas bertentangan dengan prinsip moral bahkan agama. 

Sementara dalam kasus yang lain, sempat viral dijagat maya, perbuatan bengis dilakukan salah seorang siswa yang terlihat sedang mengkonsumsi minuman keras saat proses belajar mengajar berlangsung. Di duga bahwa peristiwa itu terjadi disalah satu SMA yang berada di Jakarta Utara. Sungguh sangat memprihatinkan. 

Jika diruntutkan, sebenarnya rentetan tiga persoalan diatas merupakan akumulasi sebagian kecil dari banyaknya persolan yang menimpa dunia pendidikan. Akhirnya terkesan mencederai dan mencoreng citra sekolah dan pendidikan pada umumnya akibat ulah siswa tersebut. 

Hal demikan, harus menjadi konsentrasi serius terutama bagi pemangku kepentingan pendidikan (Guru dan pemerintah), sebab perbuatan siswa yang demikian jelas-jelas bertentangan dengan misi besar pendidikan yang termaktub dalam UUD No. 20 Tahun 2003, pasal 3 bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. pendeknya, tujuan pendidikan mengerucut pada dua aspek dalam diri siswa yakni meningkatkan kecerdasan dan membimbing akhlak (moral). 

Jika ditelisik lebih dalam, hampir semua persoalan yang melanda dunia pendidikan bersumbuh pada keretakkan moralitas peserta didik. Hal demikian, menjadi tamparan keras bagi lembaga pendidikan. Maka upaya yang harus dibangun oleh pemangku kepentingan adalah mengokohkan fondasi moralitas siswa, melalui bangunan pendidikan yang berkarakter.

Pendidikan mencetak SDM yang bermoril  

Perlu kita pahami secara bersama bahwa pendidikan sebagai langkah strategis dalam membangun integritas sumber daya manusia (SDM) yang utuh. Dalam artian, segala peradaban kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak lepas dari mutu sumber daya manusianya. Jika kualitas sumber daya manusia suatu bangsa mengalami kemerosotan, tentunya akan berdampak buruk pada segala dimensi kehidupan manusia. Maka dari itu, pendidikan menjadi jalan tengah dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia terutama pada aspek  perilaku dan pola pikir manusia. Sebagaimana yang dilontarkan Ilahi (2015) bahwa pendidikan hendak menawarkan suatu gagasan tentang pembinaan perilaku, sikap, dan kepribadian peserta didik sehingga mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh. 

Secara konsep, pendidikan telah menjadi motor pembenahan kualitas sumber daya manusia. Maka langkah taktis yang harus ditempuh guru guna menanamkan nilai-nilai moralitas dalam diri peserta didik, dengan cara memberikan doktrinasi nilai-nilai agama secara berkelanjutan. Disamping itu, pola pengajaran juga harus diperbaharui, di mana hubungan antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar bukan terbangun secara vertikal, melainkan secara horizontal. Dalam artian, peserta didik oleh guru di jadikan kawan bertukar pendapat, bercanda gurau, mengobrolkan tentang kehidupan dan lain sebagainya, dengan tidak menciptakan pengekangan dan pembatas. Di samping itu, peran orang tua juga sangat penting dalam menontrol pergaulan anak. 

Pada titik inilah, mutu pendidikan menjadi sangat perlu untuk diupgrade, sebab pendidikan disamping bertujuan untuk menghasilkan manusia yang berwawasan luas, potensial, tangguh, dan cerdas, pendidikan juga penting untuk membangun pribadi manusia yang bermoril dengan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

***

*)Penulis: Alsaba S. Igobula, Mahasiswa pascasarjana Unisma.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*)Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi. 

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com