Sifat Rasul untuk Pemimpin Bangsa

Home / Kopi TIMES / Sifat Rasul untuk Pemimpin Bangsa
Sifat Rasul untuk Pemimpin Bangsa Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

TIMESPAPUA, YOGYAKARTA”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nisa’, 59).

RASUL adalah manusia pilihan Allah SWT sepanjang sejarah kehidupan. Manusia yang terjaga (Ma’shum) dan diberikan keistimewaan yang melebihi di antara manusia-manusia lainnya.

Di balik itu juga diuji oleh Allah SWT yang tidak ringan, bahkan sangat berat yang kadang jauh melebihi dibandingkan dengan manusia lainnya. Untuk menunuaikan tugas kerasulan, ada empat sifat yang mengkarakter pada para rasul.

Pertama, Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya benar. Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya.

Dengan sifat ini diharapkan ummat tidak merasa ditipu, dan ummat tidak meragukan apa yang dibawa oleh seirang Rasul. Allah SWT berfirman dalam QS An Najm,4-5 yang artinya “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”.

Kedua, Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya (trusted). Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Hal ini dibuktikan dengan pemberian gelar oleh orang Makkah kepada Nabi Muhammad SAW pada usia 25 tahun sebagai  “Al Amin” yang artinya terpercaya. Allah swt berfirman dalam QS Al A’raf, 68 yang attinya: “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” Mustahil Rasul itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah.

Ketiga, Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Jin, 28, yang artinya “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”

Seorang Rasul tidak boleh menyembunyikan yang seharusnya untuk ummatnya. Bahkan ketika mengabaikannya, Allah swt menegurjya langsung. Sebagaimana awal QS Abasa yang menegur Rasulullah yang mengabaikan kehadiran seorang buta, Ibnu Ummi Maktum.  Karena itu tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.

Keempat, Fathonah, artinya cerdas. Mustahil Rasul itu bodoh atau jahlun. Katakanlah Rasulullah dalam menyampaikan 6.236 ayat Al Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah, 269 yang artinya

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepemahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu ia benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang yang berakallah (ulul albab) yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.”

Hari ini, 20 Oktober 2019, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena akan terjadi peristiwa bersejarah, adanya pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI  2019-2024. Untuk mengawal perjalanan dan pembangunan Indonesia ke depan, di samping kedua top pimpinan bangsa mengikuti rambu-rambu kepemimpinan nasional, diharapkan sekali bisa memiliki 4 sifat Rasul tersebut.

Sangat diyakini bahwa sekiranya kedua pimpinan bangsa dan semua anggota kabinetnya, pimpinan lembaga legislatif dan lembaga-lembaga lainnya dapat menerapkan 4 sifat Rasul, insya Allah Indonesia akan mengalami kemajuan secara berarti.

Walaupun kehadiran para legislator belakangan ini menimbulkan tanda tanya terkait dengan kapasitas dan kredibilitasnya. Saya berkeyakinan bahwa era sekarang dengan adanya kecenderungan collective intelligence lebih efektif daripada individual intelligence, maka kepemimpinan kolektif seharusnya menjadi pilihan untuk mengelola lembaga legislatif.

Akhirnya kita berharap sekali bahwa dengan mengambil best practices dari pengalaman para Rasul dengan 4 sifat utama itu, para pimpinan bangsa dalam emban amanah dapat menjadikan 4 sifat itu mewarnai pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Insya Allah dengan tindakan-tindakan ini, semuanya dapat terhindar dari pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com